Sarjana tidak menjamin kehidupan
| Sunday, 21 September 2008 17:17 WIB | |
| NANANK FAUZI AMD.Kom
na2ng_fauzi@yahoo.com Masyarakat selalu berfikir bahwa untuk mendaptkan pekerjaan yang baik dengan penghasilan yang lumayan adalah dengan menempuh pendidikan hingga kejenjang perguruan tinggi. Dimana-mana selalu kita dingar ucpan dari para orang tua supaya kita bisa sekolah hingga hingga keperguruan tinggi atau sarjana. Karena menurut pemikiran mereka kalau kita sekolahnya lebih tinggi (katakanlah tamat sarjana) tentu ketika kita diterima kerja kita pasti akan langsung menduduki jabatan yang lebih tinggi. Namun kini kenyataan berbicara lain, jumlah serjana yang pengangguran kini jumlah mencapai hingga ribuan orang. Bahkan banyak sekali kini sarjan yang menekuni pekerjaan sebagai kuli atau bahkan sebagai tukang becak, ojek atau pekerjaan lainnya yang kesemuanya adalah pekerjaan yang biasa dilakukan oleh anak yang tidak tamat sarjana. Namun karena kebutuhan ekonomi dan tekanan hidup maka sarjana sekarangpun banyak menekuni pekerjaan sebagai kuli yang sebenarnya pendidikan tidak perlu sarjana. Malang benar nasib para sarjana di Indonesia. Ternyata cita-cita untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dan lebih bermartabat bahkan untuk biaya kulian terpaksa harus mengorbankan beberapa pekat sawah orang tua di kampung tidak tercapai. Beberapa sarjana yang menekuni pekerjaan sebagai buruh kasar mengatakan bahw mereka melakukan pekerjaan ini adalah dengan sangat terpaksa, yakni untuk membiayai hidu diri sendiri bagai yang belum menikah, dan untuk membiayai keluarga bagai yang sudah menikah. Sebenarnya mereka sangat merasa sedih dan tak rela menekuni pekerjaan kasar tersebut apa lagi jika mengingat gelar sarjana mereka, tetapi inilah kehidupan yang mau tidak mau harus dijalani. Bukannya mereka tida berusaha untu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, informasi lowongan pekerjaaan selalu mereka cari bahkan sudah tidak terhitung lagi jumlah surat lamaran pekerjaan yang telah mereka kirimkan ke perusahaan-perusahaan untuk mendapat pekerjaaan yang sesuai dengan gelar sarjananya. Namun apa hendak dikata persaingan hidup kini benar-benar sangat ketat. Jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia dengan jumlah pencari kerja benar-benar sangat tidak seimbang. Bayangkan saja dalam suatu penerimaan lowongan kerja yang di perluka olah suatu perusahaan adalah 5 orang, tetapi jumlah pencari kerja yang melamar dan mengikuti seleksi hinga mencapai 500 orang lebih, belum lagi jumlah tamatan sarjana yant terus menambah setiap tahunnya. Kini masyarakat khususnya para orang tua dan pelajar harus menyadari benar bahwa tujuan mereka menempuh pendidikan bukanlah hanya sekedar supaya mendapat pekerjaan yang layak dan lebih bermartabat. Tujuan dari mengikuti pendidikan adalah untuk mendapatkan keterampilan kerja. Kini banyak kita saksikan tamatan-tamatan sarjana yang tidak memiliki skill keterampilan yang memadai, mereka hanya sekedar tamat dan mendapatkan ijazah tetapi tidak mendapatkan keterampilan kerja. Para penyelenggara pendidikanpun juaga harus menyadari hal ini, jangan tujuan mereka hanya sekedar untuk menamatkan siswanya atau mahasiswanya supaya mereka mendapatkan gelar. Tetapi yang penting adalah bagaimana supaya mereka (para tamatan) mendapatkan skill keterampilan yang memadai. Oleh karenany peralatan pendukung penunjang pendidikan di Sekolah dan Perguruan tinggi harus di penuhi dan dilengakapi sesuai dengan standard kurikulum pendidikan dan tuntutan dunia kerja /industri. Bayangkan saja masijh banyak sekali sekolah yang belum memiliki fisilitas pendukung laboratorium, seperti lab. Komputer, bahasa dan lain sebagainya. Tentunya hal ini akan membuat anak didiknya akan semakin ketinggalan teknologi. Banyak sakolah ataupun perguran tinggi yang hanya bangunan gedungnya saja yang megah dan besar, namun kualitas sistem pendidikannya tidak di perhatikan dan masyarakat awam banyak tertipu dengan hak seperti ini. Oleh karena saya mengajak kepada seluruh jajaran dunia pendidikan khususnya kepada para pelajar dan mahasiswa mulai sekarang harus merubah niat dan memperbaiki cara pandang bahawa tujuan kita mengikuti pendidikan bukanlah semata-mata hanya untuk mendapatkan gelar atau ijazah. Tetapi tujuan kita mengikuti pendidikan adalah untuk mendapatkan ilmu dan keterampilan sebgai bekal hidup kita kelak. Mari maju dan berubah mahasiswa Indonesia!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! |
belum ada gambarnya woi….
ntar ya masih dalam proses
[...] Wisuda Posted by: cekkii | Juli 20, 2008 [...]
Oleh: Ngilangin stress nich gara-gara tugas akhir (Refresing) « Nanank fauzi Weblog on September 21, 2008
at 3:38 pm